Desa Banjarsari Wetan Kecamata Dagangan Provinsi Jawa Timur Indonesia slbnbanjarsariwetan@gmail.com 081335401838 / 08980534846

HASIL PRODUK UNGGULAN UEP SLB NEGERI BANJARSARI WETAN

HASIL PRODUK UNGGULAN UEP
SLB NEGERI BANJARSARI WETAN
Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun
Provinsi Jawa Timur

KATA PENGANTAR

Keterampilan kecakapan hidup merupakan hal penting yang harus dikuasai oleh peserta didik pendidikan khusus. Dengan keterampilan kecakapan hidup,  mereka dapat hidup mandiri, dapat menghasilkan produk yang menjadi sumber penghasilan, dan dapat membuka usaha (berwiraswasta) untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

Untuk mewujudkan hal tersebut SLB Negeri Banjarsari Wetan Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun mendirikan sebuah rumah produksi yang menjadi wadah bagi peserta didiknya untuk mengembangkan bakat dan kemampuan keterampilan yang dimilkinya.

Rumah produksi SLB Negeri Banjarsari Wetan Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun menghasilkan 5 produk unggulan meliputi produk menjahit (tata busana), batik, boga (sambel pecel, brambang goreng, lempeng beras, olahan jajanan dan jus), kriya kayu dan kerajinan tangan (bandana, bros, alas piring, boneka, tempat tisu, taplak meja, dll).

Hasil dari rumah produksi dipasarkan melalui koperasi sekolah, pamerandan media sosial. Banyak konsumen yang menyukai hasil produksi kami karena kualitas yang bagus dan harga jual di bawah harga pasar.

PELATIHAN DESAIN GRAFIS BAGI SISWA-SISWI SLB SE-KABUPATEN MADIUN: BEKALI PESERTA DENGAN KETERAMPILAN DIGITAL DAN KARYA KREATIF

SLB Negeri Banjarsari Wetan menjadi tempat penyelenggaraan kegiatan Pelatihan Desain Grafis bagi Siswa-Siswi SLB se-Kabupaten Madiun yang dilaksanakan selama empat hari, mulai Selasa, 22 September sampai dengan Jumat, 25 September 2026, bertempat di Aula Pertemuan SLB Negeri Banjarsari Wetan, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun.Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan dari SLB se-Kabupaten Madiun dengan ketentuan setiap sekolah mengirimkan satu orang peserta didik dan satu orang guru pendamping. Pelatihan dirancang sebagai ruang pembelajaran sekaligus praktik untuk memperkenalkan keterampilan desain grafis kepada peserta didik berkebutuhan khusus secara bertahap, aplikatif, dan menyenangkan.

Kegiatan menghadirkan narasumber dari Multimedia Production, yaitu Oktafian Adi Saputra, Yosy Galang Saputra, Dwi Rizqi Kurnia Wardani, Aileen Putri Alam, dan Nico Dwi Cahyo Putranto. Para narasumber memberikan pendampingan secara langsung mulai dari pengenalan perangkat lunak desain hingga praktik menghasilkan karya yang dapat diaplikasikan pada media cetak. Melalui pelatihan ini, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai desain grafis, tetapi juga mendapatkan pengalaman praktik secara langsung. Materi yang diberikan meliputi Pengenalan Dasar CorelDRAW, Proses Pembuatan Dasar Desain, Penyempurnaan Desain dan Cetak Media Kertas, serta Pelatihan Sablon DTF dan Praktik Kaos.

Hal yang menjadi pengalaman menarik dalam kegiatan ini adalah peserta tidak berhenti pada tahap mempelajari teori dan membuat desain. Desain yang telah dibuat juga dikembangkan menjadi karya nyata berupa kaos hasil desain peserta sendiri, sehingga setiap peserta dapat membawa pulang hasil karyanya sebagai bentuk apresiasi sekaligus bukti keterampilan yang telah dipelajari selama pelatihan.

Pembukaan Kegiatan

Kegiatan pelatihan diawali dengan proses registrasi peserta. Setelah seluruh peserta dan guru pendamping hadir, rangkaian pembukaan kegiatan dilaksanakan dengan suasana penuh semangat dan antusiasme. Acara diawali oleh pembawa acara, kemudian seluruh peserta, guru pendamping, panitia, dan tamu undangan bersama-sama menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya yang dipimpin oleh Erlina Purnamasari, S.Pd. Menyanyikan Indonesia Raya menjadi bagian penting untuk membangun semangat kebangsaan sekaligus mengawali kegiatan dalam suasana tertib dan khidmat. Jadwal kegiatan mencatat sesi pembukaan dan menyanyikan Indonesia Raya sebagai bagian awal rangkaian kegiatan.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Panitia, Lelly Sasia Fithri, S.Pd. Dalam sambutannya, disampaikan pentingnya kegiatan pelatihan desain grafis sebagai salah satu upaya memberikan pengalaman dan keterampilan digital kepada peserta didik SLB. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kreativitas, keberanian berkarya, serta kemampuan menggunakan teknologi secara produktif. Sambutan berikutnya disampaikan oleh Kepala SLB Negeri Banjarsari Wetan, Jefri Dwi Cahyono, S.Pd. Beliau menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta, guru pendamping, narasumber, panitia, serta seluruh pihak yang telah mendukung terlaksananya kegiatan. Kehadiran peserta dari berbagai SLB se-Kabupaten Madiun diharapkan dapat menjadi kesempatan untuk saling belajar, berbagi pengalaman, dan membangun jejaring dalam pengembangan keterampilan peserta didik berkebutuhan khusus. Selanjutnya, Pengawas Pembina PK-PLK Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Madiun, Midin, M.Pd., menyampaikan pesan dan motivasi kepada seluruh peserta. Beliau memberikan dorongan agar peserta mengikuti seluruh rangkaian pelatihan dengan sungguh-sungguh, aktif mencoba, berani bertanya, dan tidak takut melakukan kesalahan selama proses belajar. Dalam kesempatan tersebut, beliau sekaligus membuka secara resmi kegiatan Pelatihan Desain Grafis bagi Siswa-Siswi SLB se-Kabupaten Madiun. Rangkaian pembukaan kemudian ditutup dengan pembacaan doa oleh Parji, S.Pd. Setelah seluruh rangkaian pembukaan selesai, kegiatan memasuki sesi inti berupa pelatihan desain grafis.

Hari Pertama – Selasa, 22 September 2026

Pengenalan Dasar CorelDRAW

Hari pertama difokuskan pada Pengenalan Dasar CorelDRAW. Sesuai jadwal, setelah pembukaan dan waktu istirahat, peserta mulai mengikuti materi inti pada pukul 09.15 WIB. Materi pertama mencakup pengenalan CorelDRAW, mulai dari kegunaan, kelebihan dan kekurangan, hingga pengenalan tampilan aplikasi. Pada sesi ini, narasumber memperkenalkan CorelDRAW sebagai salah satu aplikasi yang dapat digunakan untuk membuat berbagai karya desain grafis. Peserta diperkenalkan dengan tampilan antarmuka aplikasi sehingga mereka dapat mengenali bagian-bagian penting yang akan digunakan selama proses praktik.

Materi kemudian dilanjutkan dengan pengenalan fungsi tool utama dan shortcut keyboard. Peserta diperkenalkan dengan berbagai perangkat dasar yang digunakan dalam proses menggambar dan mengolah objek digital. Pengenalan dilakukan secara bertahap agar peserta dapat mengikuti materi sesuai kemampuan masing-masing. Setelah sesi teori, peserta mendapatkan kesempatan untuk melakukan latihan dasar secara langsung. Peserta mencoba membuat berbagai objek sederhana menggunakan CorelDRAW dengan bimbingan dari narasumber. Sesi praktik ini menjadi tahap awal bagi peserta untuk mulai terbiasa menggunakan perangkat dan fitur dasar aplikasi.

Pada akhir kegiatan hari pertama, dilakukan evaluasi untuk mengetahui pemahaman peserta terhadap materi yang telah diberikan. Evaluasi juga menjadi kesempatan bagi narasumber untuk memberikan penguatan dan menjelaskan kembali bagian-bagian yang masih mengalami kesulitan. Kegiatan hari pertama kemudian ditutup setelah seluruh sesi selesai.

Hari Kedua – Rabu, 23 September 2026

Proses Pembuatan Dasar Desain

Memasuki hari kedua, peserta mulai diarahkan untuk memahami proses pembuatan dasar sebuah desain. Kegiatan diawali dengan review materi hari pertama sekaligus persiapan praktik. Review dilakukan untuk mengingat kembali fungsi dasar CorelDRAW yang telah dipelajari sebelumnya. Materi berikutnya adalah sketsa gambar menggunakan pensil. Peserta diajak memahami bahwa sebuah desain tidak selalu langsung dibuat menggunakan komputer, tetapi dapat diawali dari sebuah gagasan sederhana yang dituangkan dalam bentuk sketsa manual pada kertas. Pada tahap ini peserta belajar merancang ide awal, menentukan bentuk, serta menuangkan gagasan visual sesuai kreativitas masing-masing. Proses tersebut memberikan pengalaman bahwa sebuah karya desain dapat dimulai dari hal sederhana sebelum dikembangkan menjadi desain digital.

Setelah menghasilkan sketsa manual, peserta kemudian belajar menerjemahkan sketsa tersebut ke dalam bentuk visual digital menggunakan CorelDRAW. Tahapan ini menjadi salah satu bagian penting karena peserta mulai menghubungkan antara ide yang dibuat secara manual dengan proses pengolahan desain menggunakan komputer. Pada sesi siang, peserta melanjutkan praktik sketsa visual dengan mendapatkan bimbingan dan pendampingan langsung dari narasumber. Pendampingan diberikan agar peserta dapat menyelesaikan desain secara bertahap sesuai kemampuan masing-masing.

Kegiatan hari kedua diakhiri dengan evaluasi hasil sketsa. Peserta mendapatkan masukan terhadap karya yang telah dibuat sebagai bahan perbaikan untuk proses penyempurnaan desain pada hari berikutnya.

Hari Ketiga – Kamis, 24 September 2026

Penyempurnaan Desain dan Cetak Media Kertas

Pada hari ketiga, kegiatan memasuki tahap penyempurnaan desain. Peserta mempersiapkan berkas desain yang telah dibuat pada hari sebelumnya untuk kemudian dikembangkan menjadi karya yang lebih rapi dan siap dicetak. Materi pertama adalah pewarnaan desain. Peserta mendapatkan pengetahuan mengenai teori warna, kombinasi warna, serta teknik pewarnaan objek. Pemahaman terhadap warna menjadi bagian penting dalam menghasilkan desain yang menarik dan memiliki komposisi visual yang sesuai.

Setelah proses pewarnaan, peserta belajar merapikan desain. Tahapan ini meliputi pengaturan tata letak atau layout, kerapian garis, serta penyempurnaan bentuk. Narasumber memberikan arahan agar peserta dapat memperhatikan detail karya sehingga desain yang dihasilkan menjadi lebih teratur dan siap digunakan.

Pada sesi berikutnya, peserta diperkenalkan pada proses mencetak desain. Peserta mendapatkan penjelasan mengenai pengaturan tata cetak atau print setup dan kemudian melakukan praktik mencetak desain pada media kertas.

Sesi pencetakan menjadi pengalaman penting karena peserta dapat melihat secara langsung perubahan dari karya digital menjadi karya fisik. Dengan demikian, peserta tidak hanya memahami proses pembuatan desain melalui komputer, tetapi juga mengetahui tahapan dasar untuk menghasilkan produk cetak.

Pada akhir kegiatan, dilakukan evaluasi terhadap hasil cetak peserta. Evaluasi ini menjadi bahan refleksi sekaligus persiapan menuju materi berikutnya, yaitu praktik sablon DTF pada media kaos.

Hari Keempat – Jumat, 25 September 2026

Pelatihan Sablon DTF dan Praktik Kaos

Hari keempat sekaligus menjadi hari terakhir pelaksanaan pelatihan. Kegiatan difokuskan pada Pelatihan Sablon DTF dan Praktik Kaos. Peserta memulai kegiatan dengan persiapan area praktik sablon agar seluruh proses dapat berjalan dengan tertib dan aman. Sesi berikutnya adalah pengenalan sablon DTF. Peserta mendapatkan penjelasan mengenai pengertian DTF, proses kerja, serta kelebihan dan kelemahannya. Materi ini memberikan wawasan baru kepada peserta mengenai salah satu teknik yang dapat digunakan untuk menghasilkan produk kreatif berbasis desain grafis.

Setelah memperoleh pemahaman dasar, peserta memasuki sesi praktik sablon kaos. Pada tahap ini, desain yang telah dikembangkan selama kegiatan sebelumnya mulai diarahkan untuk diterapkan pada media kaos. Sesi praktik menjadi bagian yang sangat menarik karena peserta dapat melihat secara langsung bagaimana desain digital yang mereka buat dapat diwujudkan menjadi sebuah produk nyata. Dengan pendampingan narasumber, peserta mengikuti proses sablon secara bertahap hingga menghasilkan kaos dengan desain karya mereka sendiri.

Setelah istirahat, salat Jumat, dan makan siang, kegiatan praktik kembali dilanjutkan. Peserta menyelesaikan proses sablon kaos sekaligus mendapatkan pendampingan dari narasumber untuk memastikan setiap tahapan dapat dilakukan dengan baik. Jadwal resmi mencatat praktik sablon berlangsung pada sesi pagi dan dilanjutkan kembali setelah ISOMA dan salat Jumat.

Penutupan dan Penyerahan Karya

Setelah seluruh rangkaian pelatihan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan penutupan acara, penyerahan sertifikat dan karya, serta foto bersama. Penyerahan karya menjadi salah satu momen penting dalam kegiatan ini. Kaos yang dibawa pulang oleh peserta bukan sekadar hasil praktik, tetapi menjadi bentuk nyata dari proses belajar yang telah mereka jalani selama empat hari. Dari sebuah gagasan sederhana, peserta belajar membuat sketsa, mengolahnya menjadi desain digital, menyempurnakan desain, mencetaknya, hingga mengaplikasikannya pada media kaos.

Dengan demikian, pelatihan ini memberikan pengalaman belajar yang utuh, mulai dari ide, proses, praktik, hingga menghasilkan produk.


Empat Hari Belajar, Satu Karya yang Membanggakan

Pelatihan Desain Grafis bagi Siswa-Siswi SLB se-Kabupaten Madiun menjadi salah satu bentuk kegiatan yang memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengenal dan mengembangkan keterampilan digital melalui proses yang nyata dan aplikatif.

Selama empat hari, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai penggunaan CorelDRAW, tetapi juga belajar bagaimana sebuah karya dirancang dan dikembangkan secara bertahap. Mulai dari membuat sketsa dengan pensil, mengubahnya menjadi desain digital, memberikan warna, memperbaiki tata letak, mencetak desain, hingga mengaplikasikannya melalui teknik sablon DTF pada kaos. Tahapan tersebut mengikuti rangkaian materi yang telah disusun dalam jadwal pelatihan. Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa peserta didik berkebutuhan khusus memiliki ruang yang luas untuk mengembangkan kreativitas dan keterampilan sesuai dengan potensi masing-masing. Melalui pembelajaran yang didominasi praktik dan pendampingan, peserta diberikan kesempatan untuk mencoba, berkarya, serta menghasilkan sesuatu yang dapat mereka lihat dan rasakan secara langsung.

Lebih dari sekadar pelatihan desain grafis, kegiatan ini menjadi sebuah pengalaman belajar yang mendorong kreativitas, kemandirian, keberanian mencoba, serta apresiasi terhadap karya sendiri. Kehadiran guru pendamping dari masing-masing sekolah juga memberikan dukungan penting dalam membantu peserta mengikuti setiap tahapan kegiatan.

Diharapkan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan tidak berhenti setelah kegiatan berakhir. Pengetahuan dan pengalaman yang telah didapat dapat dikembangkan kembali di sekolah masing-masing sebagai bagian dari penguatan keterampilan digital dan keterampilan vokasional peserta didik. Dengan semangat belajar, berkarya, dan menghasilkan karya nyata, pelatihan ini menjadi langkah positif dalam membuka kesempatan yang lebih luas bagi peserta didik SLB untuk mengembangkan potensi, kreativitas, dan keterampilan di bidang desain grafis.

DUA HARI PENUH SEMANGAT DAN KOLABORASI, SLBN BANJARSARI WETAN JALANI VISITASI AKREDITASI TAHUN 2026

Madiun, 9–10 September 2026 — Dua hari menjadi waktu yang penuh makna bagi keluarga besar SLB Negeri Banjarsari Wetan Kabupaten Madiun. Pada Rabu, 9 September hingga Kamis, 10 September 2026, sekolah melaksanakan Visitasi Akreditasi Tahun 2026.

Kegiatan ini menjadi salah satu momentum penting bagi sekolah untuk menunjukkan berbagai upaya yang telah dilakukan dalam memberikan layanan pendidikan kepada peserta didik berkebutuhan khusus. Lebih dari sekadar proses penilaian, visitasi menjadi kesempatan bagi sekolah untuk merefleksikan berbagai program, proses pembelajaran, pengelolaan sekolah, lingkungan belajar, serta kolaborasi yang telah dibangun bersama orang tua dan masyarakat.

Visitasi dilaksanakan oleh Asesor 1, Abu Kohir, S.Pd., M.MPd., dan Asesor 2, Gatot Arifin, S.Pd., M.MPd. Selama dua hari, para asesor melakukan berbagai rangkaian kegiatan mulai dari temu awal, observasi lingkungan sekolah, wawancara dengan berbagai unsur sekolah dan masyarakat, telaah dokumen, hingga observasi langsung proses pembelajaran di kelas.

Hari Pertama: Mengenal Sekolah Lebih Dekat (Temu Awal, Membuka Rangkaian Visitasi)

Hari pertama, Rabu, 9 September 2026, diawali dengan kegiatan temu awal yang berlangsung di Ruang Pertemuan SLBN Banjarsari Wetan. Kegiatan temu awal menjadi pintu pembuka seluruh rangkaian visitasi. Pada sesi ini, asesor diterima oleh keluarga besar sekolah dan dilakukan perkenalan antara asesor dengan unsur-unsur yang terlibat dalam pelaksanaan visitasi. Selanjutnya, Kepala Sekolah menyampaikan pemaparan singkat mengenai profil sekolah, rencana pengembangan sekolah, sistem pengelolaan satuan pendidikan, serta berbagai capaian yang telah diraih. Pemaparan tersebut memberikan gambaran awal kepada asesor mengenai karakteristik, arah pengembangan, serta berbagai upaya yang dilakukan SLBN Banjarsari Wetan dalam menyelenggarakan layanan pendidikan.

Pada sesi ini turut hadir Pengawas Pembina Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Madiun, Bapak Midin, M.Pd. Kehadiran pengawas pembina menjadi bagian dari dukungan terhadap proses penyelenggaraan pendidikan dan peningkatan mutu di satuan pendidikan. Selain itu, hadir pula tokoh masyarakat, Ketua Komite, perwakilan wali murid, dan alumni. Kehadiran mereka memberikan warna tersendiri dalam kegiatan temu awal sekaligus menunjukkan bahwa sekolah merupakan bagian dari lingkungan masyarakat yang membutuhkan dukungan dan kolaborasi berbagai pihak. Setelah pemaparan dari sekolah, asesor menyampaikan strategi dan mekanisme pelaksanaan visitasi yang akan dilakukan selama dua hari. Dengan demikian, seluruh unsur yang terlibat memiliki gambaran mengenai rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan.

Observasi Lingkungan Sekolah: Melihat Sekolah Secara Langsung

Setelah kegiatan temu awal, asesor melanjutkan kegiatan dengan observasi lingkungan sekolah. Pada kegiatan ini, asesor melihat secara langsung kondisi lingkungan, bangunan, ruang, serta berbagai fasilitas yang terdapat di SLBN Banjarsari Wetan. Observasi lingkungan menjadi bagian penting karena sekolah tidak hanya dapat dilihat melalui dokumen, tetapi juga melalui kondisi nyata di lapangan. Para asesor berkesempatan melihat berbagai bangunan dan fasilitas yang digunakan untuk mendukung kegiatan pembelajaran serta pelayanan peserta didik.

Kegiatan ini juga menjadi kesempatan bagi sekolah untuk memperlihatkan bagaimana lingkungan sekolah dimanfaatkan sebagai bagian dari proses pendidikan. Berbagai ruang dan fasilitas yang ada menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran yang mendukung kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus. Dengan melihat kondisi sekolah secara langsung, asesor memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai lingkungan belajar dan fasilitas yang tersedia di SLBN Banjarsari Wetan.

Wawancara Bersama Komite, Wali Murid, Tokoh Masyarakat, dan Alumni

Rangkaian berikutnya adalah sesi bersama komite, orang tua/wali murid, tokoh masyarakat, dan alumni. Dalam sesi ini dilakukan penggalian informasi melalui wawancara dan telaah dokumen. Informasi yang diperoleh dari berbagai unsur tersebut menjadi bagian dari data yang digunakan dalam proses visitasi. Kehadiran orang tua dan komite menjadi penting karena pendidikan peserta didik berkebutuhan khusus tidak dapat berjalan hanya dengan mengandalkan sekolah. Dukungan keluarga memiliki peran dalam keberlangsungan pendidikan peserta didik, sementara komite menjadi salah satu unsur yang turut mendukung pengembangan sekolah. Sementara itu, tokoh masyarakat dan alumni memberikan perspektif mengenai hubungan sekolah dengan lingkungan sekitar serta keberadaan sekolah sebagai bagian dari masyarakat.

Sesi wawancara berlangsung sebagai ruang dialog untuk menggali berbagai pengalaman, dukungan, dan keterlibatan masing-masing pihak dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan di SLBN Banjarsari Wetan.

Wawancara dengan Pimpinan Sekolah

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi bersama pimpinan atau kepala sekolah. Pada sesi ini, asesor menggali informasi mengenai kepemimpinan kepala satuan pendidikan dalam pengelolaan sekolah. Wawancara dan telaah dokumen menjadi metode yang digunakan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan. Sesi ini menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana sekolah dikelola, bagaimana arah pengembangan sekolah dirancang, serta bagaimana kepemimpinan sekolah mendukung pelaksanaan berbagai program dan layanan pendidikan.

Sesi Bersama Guru: Menggali Proses Pembelajaran

Setelah sesi pimpinan sekolah, kegiatan dilanjutkan dengan sesi bersama guru. Para asesor menggali informasi mengenai kinerja pendidik dalam mengelola proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Guru kelas, guru mata pelajaran, guru pembimbing khusus, dan guru BK menjadi bagian dari pihak yang terlibat dalam sesi ini. Bagi SLBN Banjarsari Wetan, proses pembelajaran memiliki tantangan sekaligus karakteristik tersendiri karena setiap peserta didik memiliki kebutuhan, kemampuan, dan karakter yang beragam. Oleh karena itu, peran guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran menjadi salah satu bagian penting dalam memberikan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Melalui wawancara dan telaah dokumen, asesor menggali berbagai informasi yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran dan kinerja pendidik.

Wawancara Bersama Wakil Kepala Sekolah dan Tenaga Kependidikan

Menjelang berakhirnya rangkaian kegiatan hari pertama, asesor melaksanakan sesi bersama wakil kepala sekolah dan tenaga kependidikan. Pada sesi ini digali informasi mengenai iklim lingkungan belajar, administrasi sekolah, perpustakaan, dan berbagai layanan pendukung lainnya. Sesi ini menunjukkan bahwa keberhasilan penyelenggaraan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh proses pembelajaran di kelas. Pengelolaan administrasi, lingkungan belajar, perpustakaan, fasilitas, serta dukungan tenaga kependidikan juga menjadi bagian penting dalam menciptakan layanan pendidikan yang terorganisasi dan mendukung kebutuhan peserta didik.

Dengan berakhirnya sesi bersama wakil kepala sekolah dan tenaga kependidikan, rangkaian kegiatan visitasi pada hari pertama pun selesai. Seluruh kegiatan berlangsung sebagai proses penggalian data dan informasi mengenai berbagai aspek penyelenggaraan pendidikan di SLBN Banjarsari Wetan.

Hari Kedua: Menyaksikan Pembelajaran dan Mendengarkan Suara Peserta Didik

Memasuki Kamis, 10 September 2026, rangkaian visitasi berlanjut dengan agenda yang lebih banyak berfokus pada guru, peserta didik, dan proses pembelajaran. Hari kedua menjadi kesempatan bagi asesor untuk melihat secara langsung bagaimana pembelajaran berlangsung di ruang kelas serta bagaimana peserta didik mengikuti proses belajar bersama guru.

Observasi Pembelajaran di Dua Kelas

Kegiatan pagi hari dimulai dengan observasi pembelajaran di dua kelas. Sesuai jadwal visitasi, observasi dilakukan pada kelas bawah dan kelas atas untuk memperoleh gambaran mengenai proses pembelajaran pada jenjang yang berbeda. Pada kesempatan ini, praktik mengajar diwakili oleh dua guru, yaitu:

  • Roberto Indrawanto, S.Pd., selaku wali kelas 11 SMALB Tunagrahita.
  • Erlina Purnamasari, S.Pd., selaku guru kelas 2 Autis.

Kedua guru melaksanakan pembelajaran di kelas masing-masing, sementara para asesor melakukan pengamatan secara langsung. Observasi pembelajaran memberikan kesempatan kepada asesor untuk melihat bagaimana proses pembelajaran berlangsung secara nyata. Mulai dari interaksi guru dengan peserta didik, keterlibatan peserta didik dalam kegiatan belajar, hingga suasana pembelajaran di kelas menjadi bagian dari hal-hal yang diamati.

Bagi guru, kegiatan observasi ini juga menjadi pengalaman reflektif. Pembelajaran yang berlangsung sehari-hari di kelas dapat dilihat dari sudut pandang lain melalui proses visitasi. Yang menarik, observasi dilakukan pada dua karakteristik peserta didik yang berbeda, yaitu kelas SMALB Tunagrahita dan kelas 2 Autis. Hal tersebut memberikan gambaran mengenai keberagaman layanan pembelajaran yang diselenggarakan di SLBN Banjarsari Wetan. Sesuai mekanisme visitasi, asesor mengikuti proses pembelajaran dan melakukan observasi tanpa memberikan pertanyaan kepada guru maupun peserta didik selama kegiatan pembelajaran berlangsung.

Mendengarkan Suara Peserta Didik

Setelah observasi pembelajaran, kegiatan dilanjutkan dengan sesi bersama peserta didik. Dalam sesi ini, asesor melakukan wawancara untuk menggali informasi yang berkaitan dengan pengalaman peserta didik selama mengikuti pendidikan di sekolah. Sesi bersama peserta didik menjadi bagian yang sangat berarti karena peserta didik merupakan pusat dari seluruh layanan pendidikan yang diselenggarakan sekolah. Untuk memperlancar sesi wawancara dengan peserta didik, beberapa guru mendampingi peserta didik agar dapat menterjemahkan bahasa isyarat atau sekedar menjelaskan apa yang menjadi jawaban dari peserta didik yang notabene mereka semua adalah anak berkebutuhan khusus.

Melalui percakapan dengan peserta didik, asesor dapat memperoleh gambaran mengenai pengalaman mereka selama berada di sekolah, mengikuti pembelajaran, serta berinteraksi dalam lingkungan pendidikan. Suasana kegiatan pun menjadi lebih beragam karena peserta didik mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan pengalaman mereka secara langsung dengan bantuan guru pendamping.

Kompromi Data dan Penyusunan Catatan Hasil Visitasi

Setelah seluruh sesi penggalian data selesai, asesor memasuki tahap kompromi data. Pada tahap ini, asesor melakukan pencermatan terhadap berbagai data dan informasi yang telah diperoleh selama proses visitasi. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses penyusunan catatan dan saran pada penilaian akhir. Apabila diperlukan, unsur sekolah dapat dilibatkan untuk melakukan pengecekan ulang terhadap data tertentu.

Tahap ini menjadi bagian penting dari keseluruhan proses karena berbagai informasi yang diperoleh selama dua hari perlu dicermati secara menyeluruh agar gambaran mengenai kondisi sekolah dapat tersusun dengan baik.

Temu Akhir: Menutup Visitasi dengan Refleksi

Rangkaian Visitasi Akreditasi SLBN Banjarsari Wetan kemudian ditutup dengan temu akhir. Pada kegiatan tersebut, asesor menyampaikan berbagai temuan yang diperoleh selama proses visitasi. Temu akhir menjadi penutup dari seluruh rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan selama dua hari. Bagi keluarga besar SLBN Banjarsari Wetan, berakhirnya visitasi bukan berarti berakhir pula proses untuk meningkatkan mutu sekolah. Justru, seluruh rangkaian kegiatan tersebut menjadi bahan refleksi untuk melihat kembali apa yang telah dilakukan, apa yang telah dicapai, serta bagian mana yang masih dapat dikembangkan.

Visitasi Berakhir, Semangat Meningkatkan Mutu Terus Berlanjut

Dua hari pelaksanaan Visitasi Akreditasi Tahun 2026 memberikan pengalaman yang berharga bagi seluruh keluarga besar SLBN Banjarsari Wetan. Mulai dari ruang pertemuan, lingkungan sekolah, wawancara bersama berbagai unsur, telaah dokumen, hingga pengamatan proses pembelajaran di kelas, seluruh rangkaian tersebut menjadi bagian dari upaya untuk melihat sekolah secara lebih utuh. Kegiatan ini juga memperlihatkan bahwa penyelenggaraan pendidikan merupakan sebuah proses yang membutuhkan kolaborasi. Guru, tenaga kependidikan, peserta didik, orang tua, komite, alumni, tokoh masyarakat, pengawas pembina, dan berbagai pihak lainnya memiliki peran dalam perjalanan sekolah.

Bagi SLBN Banjarsari Wetan, akreditasi bukan hanya tentang sebuah hasil akhir. Akreditasi menjadi bagian dari perjalanan untuk terus belajar, berbenah, melakukan refleksi, dan meningkatkan kualitas layanan pendidikan. Dengan semangat kebersamaan dan komitmen untuk memberikan layanan terbaik, keluarga besar SLBN Banjarsari Wetan akan terus melangkah memberikan ruang bagi peserta didik berkebutuhan khusus untuk belajar, berkembang, berkarya, dan menunjukkan potensi terbaiknya.

Visitasi telah usai. Namun semangat untuk terus tumbuh, berbenah, dan memberikan layanan pendidikan yang bermakna akan terus menyala di SLBN Banjarsari Wetan.

SEMARAK FESTIVAL KEBHINEKAAN SDN 01 BANJARSARI WETAN: KOLABORASI DALAM KEBERAGAMAN

Pada Sabtu, 29 Agustus 2026, telah diselenggarakan kegiatan Festival Kebhinekaan SDN 01 Banjarsari Wetan yang menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan dan menumbuhkan semangat persatuan dalam keberagaman. Kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi antara SDN 01 Banjarsari Wetan, keluarga besar SLBN Banjarsari Wetan, serta KB dan TK Aisyiyah. Melalui kegiatan tersebut, seluruh peserta diajak untuk mengenal, menghargai, dan merayakan keberagaman budaya sebagai bagian dari kekayaan bangsa Indonesia.

Keluarga besar SLBN Banjarsari Wetan turut berpartisipasi dengan melibatkan 30 siswa dan 10 guru. Para siswa dan guru mengenakan berbagai macam pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia. Sejak pagi hari, siswa dan guru telah datang ke sekolah untuk mempersiapkan diri, termasuk melakukan rias dan mengenakan pakaian adat yang telah disiapkan. Suasana pagi di SLBN Banjarsari Wetan tampak semarak dengan persiapan para peserta yang antusias mengikuti Festival Kebhinekaan.

Setelah seluruh persiapan selesai, pada pukul 07.30 WIB, rombongan SLBN Banjarsari Wetan berangkat menuju SDN 01 Banjarsari Wetan yang lokasinya berada di sebelah belakang SLBN Banjarsari Wetan. Sesampainya di lokasi, seluruh peserta festival dari berbagai satuan pendidikan berkumpul di halaman SDN 01 Banjarsari Wetan. Setelah semua peserta siap, Kepala SDN 01 Banjarsari Wetan memberikan sambutan sekaligus secara resmi memberangkatkan peserta Festival Kebhinekaan pada pukul 08.00 WIB.

Kegiatan dilanjutkan dengan berjalan bersama mengelilingi lingkungan sekitar Banjarsari Wetan. Rute yang ditempuh tidak terlalu jauh sehingga seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan dengan nyaman. Di barisan depan, peserta menampilkan tarian sambil berjalan dengan diiringi musik dari sound system yang meriah. Peserta lainnya mengikuti dengan penuh semangat, berjalan bersama sambil sesekali berfoto dengan warga di sepanjang perjalanan. Kehadiran peserta dengan pakaian adat yang beraneka ragam semakin menambah semarak suasana festival dan menjadi gambaran nyata indahnya keberagaman budaya Indonesia.

Di tengah perjalanan, para peserta juga mengikuti kegiatan memasukkan kupon undian ke dalam kardus yang telah disediakan oleh panitia. Kegiatan ini semakin menambah antusiasme peserta hingga perjalanan kembali menuju SDN 01 Banjarsari Wetan.

Setelah seluruh peserta tiba kembali di halaman sekolah, panitia menyediakan sarapan nasi pecel secara gratis bagi seluruh peserta. Suasana kebersamaan semakin terasa ketika siswa, guru, dan seluruh peserta menikmati hidangan bersama. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan berbagai penampilan seni dari peserta festival.

Pada kesempatan tersebut, SLBN Banjarsari Wetan turut menampilkan pertunjukan menyanyi isyarat oleh siswa-siswi tunarungu dengan membawakan lagu “Indonesia Pusaka”. Penampilan tersebut menjadi salah satu bentuk ekspresi seni sekaligus menunjukkan bahwa keberagaman dan perbedaan bukanlah penghalang untuk berkarya dan berpartisipasi bersama. Dengan penuh percaya diri, siswa-siswi tunarungu SLBN Banjarsari Wetan tampil di hadapan seluruh peserta dan mendapatkan apresiasi dari penonton.

Selain berbagai penampilan, kegiatan Festival Kebhinekaan juga semakin meriah dengan pembagian berbagai hadiah hiburan kepada para peserta. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dalam suasana penuh kegembiraan, kekeluargaan, dan kebersamaan.

Festival Kebhinekaan SDN 01 Banjarsari Wetan bukan sekadar kegiatan mengenakan pakaian adat atau berjalan bersama, tetapi juga menjadi sarana untuk menanamkan nilai persatuan, toleransi, gotong royong, saling menghargai, serta menghormati keberagaman sejak dini. Kolaborasi antara SDN 01 Banjarsari Wetan, SLBN Banjarsari Wetan, serta KB dan TK Aisyiyah menunjukkan bahwa perbedaan jenjang, karakteristik, maupun kemampuan bukanlah batas untuk dapat belajar dan bergembira bersama.

Harapannya, kegiatan kolaborasi seperti Festival Kebhinekaan ini dapat terus dilaksanakan dan dikembangkan pada tahun-tahun berikutnya. Semoga kegiatan ini dapat menjadi agenda bersama yang semakin mempererat hubungan antarsatuan pendidikan, keluarga besar sekolah, dan masyarakat sekitar. Dengan kebersamaan yang terus terjalin, diharapkan akan semakin banyak kegiatan positif, inklusif, dan edukatif yang dapat dilaksanakan bersama untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang ramah, harmonis, dan menghargai keberagaman.